Anda Mengikuti Salaf atau Salafi?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memiliki jawaban menarik ketika ditanya apakah kita menamakan diri atau kelompok dengan As-Salafi atau Al-Atsari. Ia menyatakan bahwa kewajiban kaum Muslim adalah mengikuti salaf shalih; tidak harus membentuk kelompok atau golongan yang diberi nama “Salafi”.

Beliau menjelaskan sebagai berikut:

 ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين. والواجب أن تكون الأمة الإسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى ما يسمى (السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak diragukan lagi bahwa seluruh kaum Muslimin wajib mengikuti mazhab Salaf, bukan bergabung dengan kelompok tertentu yang disebut dengan Salafiyyun. Wajib atas seluruh umat Islam untuk mengikuti mazhab Salaf, dan bukan mengelompokkan diri dengan yang namanya Salafiyyun. Jelas, ada jalan Salaf dan ada juga ada hizb (kelompok) yang bernama Salafiyyun. Adapun yang dituntut adalah mengikuti petunjuk Salaf.”

Mengapa?

Beliau melanjutkan, “Karena ikhwah Salafiyyun adalah kelompok yang lebih dekat dengan kebenaran. Tidak diragukan. Akan tetapi, permasalahan mereka seperti kelompok lainnya. Sebagian individu kelompok ini saling menuduh sesat, bid’ah, dan fasik. Kami tidak mengingkari hal ini apabila benar mereka layak untuk itu. Akan tetapi, kami mengingkari terapi bid’ah-bid’ah tersebut dengan cara ini.

Yang wajib adalah hendaknya para pemimpin kelompok-kelompok ini berkumpul. Hendaknya mereka mengatakan, “Di antara kita ada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Marilah kita berhukum kepada keduanya; bukan kepada hawa nafsu, akal, dan tidak pula kepada Fulan dan Fulan.”
Setiap orang bisa salah dan bisa benar meski sebanyak apa pun ilmu dan ibadahnya. Akan tetapi, jaminan kemaksuman hanya pada agama Islam.”

Asal-Usul Penamaan As-Salafi atau Al-Atsari Dipertanyakan

Seseorang pernah bertanya kepada Syaikh Shalih Al-Fauzan sebagai berikut, “Wahai Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan —semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya kepada Anda—kami mendengar sebagian orang mengatakan, ‘Tidak boleh menisbatkan kepada Salaf dan Salafiyyah dianggap sebagai salah satu hizb (golongan) yang hidup pada masa tertentu.’ Apa pendapat Anda mengenai pernyataan ini?”

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab, “Ya! Salaf adalah golongan Allah. Salaf adalah golongan, akan tetapi ia adalah hizbullah. Allah berfirman:

أُولَئِكَ حِزْبُ اللّهِ اَلآ إِنَّ حِزْبَ اللّهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)

Salaf berafiliasi kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta kepada para sahabat sehingga mereka menjadi
hizbullah. Barang siapa menyelisihi Salaf, maka mereka adalah golongan-golongan sesat lagi menyimpang.

Golongan itu sendiri bermacam-macam. Ada golongan Allah (hizbullah) dan ada golongan setan (hizbusy syaithan) sebagaimana tercantum di akhir surat Al-Mujadilah. Golongan pun beragam. Barang siapa berada di atas manhaj Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah hizbullah. Sebaliknya, barang siapa berada di atas manhaj sesat, maka dia adalah hizbusy syaithan. Engkau tinggal memilih; mau menjadi hizbullah atau menjadi hizbusy syaithan! Pilih sendiri!”

Kemudian, Syaikh ditanya, “Wahai Syaikh—semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya kepada Anda— sebagian orang mengembel-embeli di belakang namanya dengan As-Salafi atau Al-Atsari. Apakah ini termasuk bentuk penyucian terhadap diri sendiri? Ataukah memang sesuai dengan syariat?”

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab, “Yang wajib adalah seseorang mengikuti kebenaran. Yang wajib adalah seseorang mengkaji dan mencari kebenaran serta mengamalkannya. Adapun dia menamai dirinya dengan As-Salafi atau Al-Atsari dan yang semisal, maka tidak ada alasan untuk dapat mengklaim dengan nama ini.

Allah Maha Mengetahui. Dia berfirman:

قُلْ أَتُعَلِّمُوْنَ اللّهَ بِدِيْنِكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ

“Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurat: 16)

Menamakan diri dengan As-Salafi, Al-Atsari, dan yang semisal tidak ada asal-usulnya. Kita melihat pada substansi nyata; bukan pada perkataan, penamaan diri, maupun pengakuan.

Terkadang seseorang mengatakan kepada orang lain, ‘Dia salafi’, padahal orang tersebut bukan salafi (pengikut manhaj Salaf). Atau juga mengatakan, ‘Dia atsari’, padahal orang yang ditunjuk bukan atsari (pengikut atsar Salaf). Sebaliknya, seseorang salafi (pengikut manhaj Salaf) dan atsari (pengikut atsar Salaf) namun dia tidak mengatakan, ‘Aku ini atsari. Aku ini salafi.’ Hendaknya kita melihat pada substansi nyata; bukan pada penamaan maupun pengakuan.

Seorang muslim harus komitmen dengan adab terhadap Allah. Tatkala orang-orang Arab Badui mengatakan, ‘Kami telah beriman!’, Allah mengingkari mereka. Allah berfirman:

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا. قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوْا وَلكِنْ قُوْلُوْا أَسْلَمْنَا

Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman’, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’.” (Al-Hujurat: 14)

Allah mengingkari orang-orang Arab Badui yang menyifati diri mereka sebagai orang beriman. Padahal, mereka belum sampai pada tingkatan beriman. Mereka baru saja masuk Islam; itu pun masih diliputi keraguan.

Orang-orang Arab Badui itu datang dari pedusunan. Mereka menganggap diri mereka sudah lama menjadi orang beriman. Padahal tidak! Mereka baru saja masuk Islam. Apabila mereka melanjutkan keislaman mereka dan mau belajar, maka keimanan pun akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit. Allah berfirman:

وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Padahal, iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (Al-Hujurat: 14)

Kata lamma (belum) menunjukkan sesuatu yang masih menjadi harapan. Maksudnya, iman baru akan masuk tapi engkau sudah menganggap beriman dari pertama kali sebagai bentuk penyucian terhadap diri sendiri. Maka, tidak perlu engkau mengatakan, ‘Aku salafi! Aku atsari! Aku begini dan begini!’
Hendaklah engkau mencari kebenaran dan mengamalkannya. Perbaikilah niatmu! Allahlah Yang Maha Mengetahui substansi nyatanya.”


Category Article