UNICEF: Anak-anak Sekolah menjadi Korban Pembantaian Rezim Assad

DAMASKUS, faktadibaliksejarah.blog, - Sebuah kelompok hak asasi manusia internasional terkemuka menuduh rezim Bashar Al-Assad menginterogasi para murid, menargetkan sekolah-sekolah dalam serangan militer dan serangan kekerasan dan menggunakan sekolah sebagai pangkalan militer, barak, pusat penahanan, dan pos sniper untuk menembak warga sipil.

"Anak-anak Suriah harus menghadapi hal-hal dalam kengerian perang dimana tidak ada anak yang harus menanggungnya, diinterogasi, ditargetkan, dan diserang," Priyanka Motaparthy, peneliti  dan penulis laporan hak-hak anak di Human Rights Watch, mengatakan dalam siaran pers yang dipublikasikan di website lembaga tersebut pada hari Kamis, tanggal 6 Juni, demikian sebagaimana dilaporkan onislam.net.

"Sekolah harus menjadi surga, banyak anak-anak Suriah bahkan tidak mendapatkan pendidikan dasar dan kehilangan masa depan mereka."

Laporan 33-halaman berjudul, "Tidak Aman Lagi: Siswa dan Sekolah dalam Serangan di Suriah," didasarkan pada lebih dari 70 wawancara, termasuk dengan 16 siswa dan 11 guru yang melarikan diri dari Suriah, terutama dari Daraa, Homs, dan Damaskus.

laporan itu membantu untuk mendokumentasikan penggunaan sekolah sebagai pos militer dalam perang di Suriah  antara rezim Assad dan para pejuang.

Laporan ini juga menjelaskan bagaimana guru dan agen keamanan negara diinterogasi dan memukuli siswa karena kegiatan yang diduga anti-pemerintah, dan bagaimana tentara dan Shabiha, milisi pro-pemerintah, menyerang demonstrasi mahasiswa.

Guru dan pejabat sekolah telah menginterogasi siswa tentang pandangan politik mereka dan dugaan kegiatan anti-pemerintah dan keluarga mereka, dan dalam beberapa kasus menghukum secara fisik siswa yang terlibat dalam kegiatan anti-pemerintah.

Menurut Lembaga Anak-anak PBB (UNICEF), setidaknya satu dari lima sekolah di Suriah tidak berfungsi lagi,  ribuan sekolah yang hancur, rusak, atau menjadi tempat berlindung bagi orang yang melarikan diri dari kekerasan.

Cerita getir para murid

Menggambarkan kondisi pendidikan yang selama dua tahun konflik Suriah, laporan itu mengutip kasus dimana para siswa Suriah menghadapi ancaman kematian di tangan pasukan Assad.

"Ketika tangk masuk sekolah, tank itu menghancurkan dinding sekolah dengan senapan mesin," kata Salma, seorang gadis berusia 14 tahun dari Daraa.  Dia menggambarkan bagaimana pasukan pemerintah menembaki sekolahnya dua kali pada pertengahan 2012, sementara pelajaran sedang berlangsung.

"Jadi siswa tiarap untuk berlindung. Kami menghabiskan setengah jam atau satu jam  di bawah meja kami. "

Meski tidak ada laporan bahwa terdapat para pejuang di sekolah pada saat itu (hnf)


Category Article ,