MENYONGSONG NKRI (Negara Kristen Republik Indonesia

Di era reformasi, kaum misionaris Kristen secara terbuka menyatakan tekad dan ambisinya untuk mengkristenkan Indonesia. Ev. Daniel Pandji, Fasilitator Jaringan Do’a Nasional, menulis dalam makalahnya yang berjudul “Transformasi Indonesia” (hal. 53).


“Sebagaimana Allah telah mentransformasi banyak Negara dan kota di berbagai belahan dunia, tentunya kita sebagai orang beriman, percaya bahwa Allah juga rindu untuk mentransformasikan bangsa kita Indonesia”. Daniel melanjutkan, “saya percaya bahwa saat ini pasca reformasi adalah masa atau kairos kesempatan Tuhan sedang dinyatakan.

Pada paragraph berikutnya, ia menghasung umat Kristen untuk terlibat dalam mengubah Indonesia menjadi Negara salib, “Yang kita rindukan adalah perubahan secara rohani yang dilakukan oleh Tuhan sendiri. Kita akan menjadi para penyalur berkat rohani dan otoritas ilahi yang akan menjadi agen-agen perubahan untuk mengubah atmosfer suatu kota dan bangsa” (hal 53).

Simaklah berbagai penggambaran dan optimism kaum missionaries untuk mengkristenkan Indonesia berikut ini. Ibaratnya, Indonesia adalah lahan yang sudah siap panen. Kaum Kristen diminta jangan sampai melewatkan kesempatan yang sangat berharga ini.

“Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya ! Ya, Indonesia siap mengalami transformasi besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan… dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang ia rencanakan” demikikian ungkapan Dr. Bambang Widjaja, Gembala Sidang Gereja Kristen Perjanjian Baru, dalam tulisannya berjudul “Indonesia Siap Mengalami Transformasi”.

Bahkan dalam halaman 56-61, Daniel Pandji merumuskan langkah strategis transformasi untuk Indonesia. Setidaknya ada tiga langkah besar yang ia usulkan ; pertama Spiritual Beach, yaitu membangun dan menyebarkan pangkalan do’a. Ia menghasung umat kristiani untuk menguasai wilayah dengan langkah memperbanyak bangunan gereja di dalamnya, dari gereja-gereja inilah strategi penguasaan dan penaklukan dirancang.

Ia menulis “membangun pangkalan rohani (gereja) adalah seperti halnya kita menduduki suatu wilaya untuk menguasai atmosfir daerah tersebut melalui do’a syafaat. Setelah wilayah itu dikuasai, maka lahirlah strategi ilahi yang dapat menghasilkan pelayanan-pelayanan misi yang sangat efektif. Pangkalan rohani yang paling efektif atas suatu kota adalah didirikannya Menara-menara Do’a Kota” (Hal 57)

Kebutuhan pembangunan gereja sebanyak-banyaknya ini semakin menguat, mengingat keyakinan kaum misionaris bahwa transformasi adalah tugas gereja. Mungkin inilah salah satu jasa Pemerintahan SBY yang terkesan membiarkan pendirian gereja liar. Dan bisa jadi, dari sinilah umat Kristen getol dan ngotot mendirikan gereja liar, walau melanggar UU Negara ini.

Langkah kedua adalah Spiritual Breakthough (terobosan rohani). Maksudnya, setelah gereja telah mewarnai sebuah daerah maka kristenisasi lebih mudah dilaksanakan. Karena pangkalan komando kristenisasi itu telah menyebar yaitu gereja.

Langkah ketiga, Transformasi Lingkungan. Ia meyakinkan kaum missionaries, dengan mengikuti langkah satu dan dua, usaha transformasi dalam aspek kehidupan masyarakat dengan mudah terlaksana. Baik transformasi bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan nilai-nilai kerajaan Allah akan mudah menyentuh masyarakat. Artinya, berdirinya Negara Kristen Republik Indonesia (NKRI) akan tercapai.

Yang menarik, target penguasaan terhadap Indonesia yakni pada tahun 2020. Pada tahun ini, para missionaris akan berusaha hukum dan peraturan-peraturan Tuhan (Kristen) dapat tegak di bumi pertiwi ini, berjuta-juta orang akan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru selamat pribadi (hal 58).

Maka dapat disimpulkan bahwa sejatinya umat Kristen tidak rela tunduk kepada ideology Pancasila. Mereka merasa tidak nyaman hidup di bawah naungan ke-bhineka tunggal ika-an. Mereka tidak sudi dipimpin oleh orang islam, meskipun islamnya abangan atau sebatas KTP. Jadi tampak jelas, siapakah yang sebenarnya ingin menghancurkan 4 pilar kebangsaan? Siapa sebenarnya yang hendak melawan Negara, umat islam atau umat kristen? Seperti yang terjadi di papua ada OPM, Maluku ada RMS semuanya beragama Kristen, tetapi dibiarkan saja oleh Pemerintah… di papua sudah banyak polisi dan tentara yang meninggal, namun langkah kongkrit dari Negara tidak pernah ada. Berbeda jika seandainya OPM itu beragama islam, sudah pasti 10.000 Batalyon dan 100 Tank akan dikerahkan kesana, seperti yang pernah terjadi di Aceh.

demikianlah, umat kristiani bersiap menyongsong NKRI (Negara Kristen Republik Indonesia).


Category Article , ,